Pertemuan Nabi Musa As dengan Istrinya

Nabi Musa As adalah salah satu dari beberapa nabi yang digelari sebagai ulul azmi yakni nabi dan rasul yang utama karena memiliki sifat yang sabar dalam mendakwahkan ajaran Allah SWT kepada kaumnya.

Beriman kepada para nabi merupakan salah satu pokok dari keimanan. Karena orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya maka barang tentu juga beriman kepada nabi-nabi utusan Allah yang lain.
Pertemuan-Nabi-Musa-As-dengan-Istrinya

Salah satu nabi tersebut adalah nabi Musa As yang diutus oleh Allah SWT untuk kaum Yahudi.

Namun, pada kesempatan kali ini kita akan membahas bagaimana nabiyullah Musa As bertemu dengan istrinya. Ini juga bisa menjadi nasehat pernikahan yang baik bagi keluarga muslim yang ingin membentuk keluarga Islami.

Istri pendamping Nabi Musa As adalah putri dari Nabi Syu'aib As. Putrinya ini menggantikan pekerjaan ayahnya untuk mengembalakan kambingnya.

Kisah ini akan kita mulai saat pertemuan Nabi Musa dengan putri nabi Syu'aib tersebut. Ketika di Mesir Nabi Musa As membunuh seorang pemuda kemudian melarikan diri hingga sampai di negeri Madyan.

Saat sampai di Madyan inilah, Nabi Musa As bertemu dengan putri Nabi Syu'aib di sebuah sumber air. Sumber air digunakan para pegembala untuk memberikan minum kepada ternaknya.

Pada saat itu pula, Nabi Musa As melihat putri Nabi Syu'aib yang berdiri agak menjauh dari kerumunan orang (laki-laki) yang mengambil air minum untuk ternaknya itu.

Melihat hal itu Nabi Musau mendatangi keduanya, kemudian menanyakan kepada keduanya tentang apa yang sedang mereka lakukan di situ, keduanya menjawab, “Kami tidak akan memberi minum ternak kami sampai para penggembala itu pergi, dan bapak kami sudah sangat tua, sehingga tidak bisa menggembala kambing lagi”. Mendengar jawaban itu Nabi Musaupun menawarkan bantuannya, beliau mengambil timba untuk memberi minum kambing-kambing milik putri Nabi Syu’aib tadi.

Mulailah Musa mencari tempat berteduh, setelah mendapatkannya, ia bernaung di bawah tempat teduh itu, dan tidak sedikit pun meminta-minta walaupun banyak orang yang lalu-lalang di hadapannya. Musa berdoa “Ya Allah aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang engkau turunkan kepadaku.(QS. Al-Qoshos: 24)

Beberapa saat kemudian, tanpa disangka-sangka datanglah kepada Musa salah satu dari kedua perempuan itu. Sambil berjalan dengan malu-malu dia berkata “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami…”.(QS. Al-Qoshos: 25).

Singkat cerita, Nabi Musa As akhirnya dinikahkan dengan putri nabi Syu'aib.

Pelajaran penting dari kisah ini yang bisa digunakan sebagai nasehat pernikahan di catat di dalam Alquran tentang krtiteria suami yang baik itu:

“…Wahai Ayah, jadikanlah ia sebagai pekerja kita, sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja pada kita adalah orang yang kuat dan dapat di percaya”.(QS. Al-Qoshos: 26)

“Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang yang baik.(QS. Al-Qoshos: 27)

Kriteria suami yang baik yang sesuai dengan pribadi Nabi Musa As adalah orang yang kuat lagi bisa dipercaya (amanah).

Demikianlah, kisah pertemuan Nabi Musa As dengan Istrinya yang bisa digunakan sebagai nasehat pernikahan yang baik.

Sumber bacaan menarik lainnya klik: bicara wanita membentuk keluarga Islami

Comments

Popular posts from this blog

Bagaimana Gaya Hidup Seorang Muslim

Agar Usahamu Semakin Dikenal, Jangan Lupakan Hal Ini